Cara Kerja SLR dan Etika Sitasi Diri
Indonesia peringkat 3 dunia untuk jumlah artikel tapi peringkat 38 untuk sitasi. Dari cermin itu, materi ini menurunkan prosedur SLR lengkap dan batas wajar sitasi diri.

Materi pendukung ini datang dari Muhammad Akhsin Muflikhun, Ph.D. (Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik UGM), berjudul Scientific Writing and Citation Preferences. Enam puluh lima slide, dan isinya jauh lebih tajam dari judulnya: ia membuka dengan cermin yang tidak nyaman tentang posisi riset Indonesia, lalu menurunkannya jadi prosedur kerja yang bisa langsung dipakai menyusun systematic literature review.
Kartu berwarna: hijau = langkah inti, kuning = batas & peringatan, biru-lavender = perkakas, abu = data & rujukan.
Cermin: banyak menulis, jarang dirujuk
Paparan dibuka dengan tiga angka dari peringkat Scilit tahun 2024. Ketiganya tentang Indonesia, dan justru karena berurutan, ketiganya jadi menyakitkan.
| Ukuran | Angka Indonesia | Peringkat dunia |
|---|---|---|
| Total artikel | 265.870 | 3 |
| Artikel yang menerima sitasi (5 tahun) | 277.023 | 15 |
| Total sitasi diterima (5 tahun) | 1.110.457 | 38 |
Dua ukuran terakhir sering tertukar, jadi paparan menjelaskannya terpisah:
5-Year Cited Articles
Jumlah artikel yang menerima minimal satu sitasi dalam lima tahun. Menunjukkan seberapa banyak artikel yang benar-benar terpakai atau dirujuk peneliti lain.
5-Year Citations
Total jumlah sitasi yang diterima semua artikel dalam lima tahun. Menggambarkan intensitas pengaruh — satu artikel bisa menerima puluhan bahkan ratusan sitasi, jadi angkanya jauh lebih besar.
Kesimpulan yang ditarik paparan tidak berputar-putar:
Indonesia: juara kuantitas, lemah pengaruh
Artikel dan publikasi akses terbuka mendominasi kawasan ASEAN, bahkan masuk papan atas dunia. Tapi sitasinya relatif rendah — banyak artikel, jarang dirujuk.
Singapura: sedikit tapi berpengaruh
Artikelnya jauh lebih sedikit, tetapi sitasi per artikel jauh lebih tinggi — menandakan kualitas riset dan jejaring internasional yang kuat.
Bagi mahasiswa doktoral, jarak antara peringkat 3 dan peringkat 38 itu bukan statistik nasional yang abstrak. Itu pertanyaan langsung: tulisan yang sedang kita siapkan nanti akan masuk kelompok mana?
Kerangka sebuah SLR
Sebelum masuk langkah teknis, paparan menegaskan empat unsur yang harus ada di kepala penulis SLR:
- Latar belakang — isu atau topik utama yang sedang diteliti.
- Kesenjangan (gap) — apa yang belum terjawab oleh penelitian terdahulu.
- Tujuan SLR — mengidentifikasi tren, membandingkan metode, mengevaluasi hasil eksperimen, atau merumuskan arah penelitian ke depan.
- Pertanyaan penelitian (RQs) — dirumuskan eksplisit. Contoh yang diberikan: tren publikasi topik X dalam sepuluh tahun terakhir; metodologi apa yang paling banyak dipakai; apa keterbatasan dan arah penelitian masa depan.
Lima belas langkah, dikelompokkan
Bagian terbesar paparan adalah rangkaian langkah bernomor. Saya kelompokkan agar alurnya terlihat — aslinya berurutan satu per satu.
Merancang
1 · Identifikasi topik & tujuan
Tentukan ruang lingkup, lalu jelaskan tujuan utamanya: mengidentifikasi tren riset, mengevaluasi metodologi, atau mengungkap gap penelitian.
2 · Formulasi pertanyaan penelitian
Susun RQs secara eksplisit; boleh ditambah sub-RQs bila perlu lebih rinci.
3 · Strategi pencarian literatur
Tentukan database (Scopus, Web of Science, IEEE Xplore, SpringerLink, ScienceDirect), kata kunci dan operator Boolean, rentang waktu, dan bahasa.
Contoh string: ("natural fiber composite" OR "bio-based composite") AND ("mechanical properties" OR "structural performance")
4 · Kriteria inklusi & eksklusi
Masuk: artikel jurnal peer-reviewed, terbit dalam rentang tahun tertentu, relevan dengan RQs.
Keluar: artikel duplikat, prosiding konferensi tanpa naskah lengkap, dan tulisan non-ilmiah seperti ulasan populer atau laporan teknis internal.
Menyaring
5 · Proses seleksi empat tahap
Identifikasi — kumpulkan semua hasil pencarian.
Screening — buang duplikasi, periksa judul dan abstrak.
Eligibility — periksa teks penuh.
Inclusion — artikel akhir yang benar-benar dipakai.
Mengolah
6 · Ekstraksi data
Tetapkan parameter yang diambil dari tiap artikel: tahun publikasi, negara atau afiliasi penulis, tujuan penelitian, metode dan material, serta hasil utama. Semuanya disusun dalam satu tabel data.
8 · Sintesis data
Analisis deskriptif — tren publikasi, distribusi geografis, sebaran jurnal.
Analisis tematik atau naratif — temuan utama dan pola metodologi.
Meta-analisis bila memungkinkan — menggabungkan hasil kuantitatif.
Catatan atas penomoran
Penomoran di materi melompat dari 6 langsung ke 8 — tidak ada slide bernomor 7 di bagian ini. Saya salin apa adanya tanpa mengarang isi yang tidak ada. Kemungkinan besar langkah 7 (penilaian kualitas studi) terlewat saat penyusunan slide.
Melaporkan
9 · Keterbatasan yang wajib diakui
Keterbatasan database, potensi bias seleksi, dan rentang waktu publikasi yang terbatas. Materi menyertai bagian ini dengan grafik long-tail data: di luar “organized big data” ada lapisan besar data yang tak terpublikasi — batas literatur bukan batas kenyataan.
10 · Hasil & arah
Jawab semua RQs, beri rekomendasi untuk penelitian selanjutnya dan untuk penerapan ke depan. Strukturnya mengikuti bentuk jam pasir: Introduction (umum) → Methods dan Results (spesifik) → Discussion dan Conclusion (kembali umum).
11 · Dokumentasi visual
Diagram alir PRISMA, grafik tren publikasi, dan tabel perbandingan metodologi. Kutipan yang dipakai di slide ini: visual bukan sekadar gambar — visual sedang bekerja untuk mengajar.
Perkakas
12 · Basis data
Multidisiplin: Scopus (fitur Analyze Search Results), Web of Science (Analyze Results dan Citation Report), Dimensions, Lens.org.
Penerbit: ScienceDirect, SpringerLink, Wiley Online Library.
Teknik & komputer: IEEE Xplore, ASME Digital Collection.
Akses terbuka: DOAJ, dan Google Scholar — pelengkap, bukan utama, karena banyak duplikat dan kualitasnya bervariasi.
13 · Bibliometrik & visualisasi
VOSviewer — menganalisis kata kunci, co-citation, co-authorship, dan memetakan tren riset.
Bibliometrix / Biblioshiny — analisis lengkap untuk tren jangka panjang.
CiteSpace — burst detection, melihat topik yang sedang naik daun.
14 · AI & data science
Connected Papers — jaringan keterkaitan antarartikel.
Research Rabbit — tren dan koneksi penelitian secara visual.
Google Trends — untuk topik umum, bukan artikel spesifik; berguna melihat apakah istilah penelitian populer secara global.
Alur praktis
15 · Urutan kerja pencarian
Rancang string pencarian, uji coba di satu database dulu, baru terapkan ke semua database terpilih. Simpan hasilnya dengan mengekspor metadata ke format .RIS atau .BibTeX. Buang duplikasi memakai Mendeley atau Zotero. Setelah itu lanjut ke tahap screening judul dan abstrak.
Praktik nyata: dari Scopus ke VOSviewer
Bagian best practice berisi tangkapan layar langkah demi langkah — alur yang benar-benar dipakai, bukan teori. Ringkasnya tujuh langkah:
- Buat akun Scopus dan masuk lewat akses institusi.
- Cari berbasis kata kunci — pilih Search within: Keywords, masukkan istilah pencarian.
- Klasterkan hasilnya lewat panel Refine search: rentang tahun, subject area, jenis dokumen (dibatasi Article dan Review), kata kunci, jenis sumber (dibatasi Journal), dan bahasa. Contoh di materi: 1.774 dokumen menyusut jadi 917 setelah disaring.
- Unduh sebagai teks — Export → Plain text, centang informasi sitasi, bibliografi, abstrak, kata kunci, dan pendanaan.
- Beri nomor pada tiap hasil di berkas teks.
- Serahkan ke AI untuk diringkas dan diklaster — hasilnya tabel berkolom: penulis, judul, jurnal, tahun, DOI, metode, hasil utama, kelebihan, kekurangan, kebaruan, dan klaster. Tabel itu lalu dipindahkan ke Excel.
- Petakan dengan VOSviewer — Create → map based on bibliographic data, pilih jenis analisis (co-authorship atau co-occurrence) dan unit analisisnya, tentukan ambang minimum dokumen per penulis, lalu hasilkan peta jaringannya.
Detail kecil yang mudah terlewat di VOSviewer
Berkas tesaurus sering diperlukan untuk menggabungkan variasi penulisan atau salah eja satu nama penulis maupun istilah. Tanpa itu, satu orang bisa muncul sebagai beberapa simpul berbeda di peta.
Sitasi diri: angka yang tidak pernah resmi
Sepertiga akhir paparan membahas satu pertanyaan yang sering ditanyakan penulis pemula: berapa banyak kita boleh mengutip tulisan sendiri? Jawaban paparannya jujur — tidak ada angka baku.
Tidak diatur kaku dalam bentuk angka
Jumlah sitasi diri yang diperbolehkan bergantung pada konteks dan kebijakan jurnal atau konferensi tempat artikel dikirim. Yang ada hanyalah pedoman dan kebiasaan editorial.
Pedoman dari lembaga dan penerbit besar:
| Sumber | Pedoman |
|---|---|
| COPE | Tidak memberi angka; menekankan sitasi diri harus relevan dan tidak berlebihan |
| Springer Nature | Kutip karya sendiri hanya bila relevan dan perlu untuk membangun konteks, dan tidak lebih dari 20% dari seluruh sitasi |
| Elsevier | Hindari sitasi diri berlebihan; editor akan mempertanyakan bila jumlahnya tidak proporsional |
| IEEE | Batasi pada karya sendiri yang paling relevan dan paling mutakhir |
| PubMed Central | 20% dianggap ambang konservatif yang masih dapat diterima |
| Clarivate (dulu Thomson Reuters) | Di atas 20% dianggap indikasi potensi penyalahgunaan |
Praktik editorial di lapangan
Editor jurnal bereputasi — Elsevier, Wiley, Springer, Taylor & Francis — secara informal menyarankan sitasi diri tidak lebih dari 10–20% kecuali benar-benar diperlukan. Sistem submisi seperti ScholarOne dan Editorial Manager bahkan memberi tanda peringatan otomatis bila melewati sekitar 15–20%.
Lalu berapa angka sebenarnya di lapangan? Materi menampilkan data empiris per jurnal:
| Jurnal | Median | Rata-rata |
|---|---|---|
| Nature | 12,8% | 14,3% |
| Science | 12,5% | 14,4% |
| mBio | 12,2% | 14,4% |
| Molecular and Cellular Biology | 11,5% | 13,5% |
| J Cell Biology | 11,3% | 12,9% |
| Current Biology | 11,1% | 12,7% |
| Cell | 10,5% | 12,3% |
| Genetics | 9,9% | 12,0% |
| BMC Medicine | 8,8% | 11,5% |
| Bioinformatics | 8,0% | 10,3% |
Temuan empiris lain
Studi bibliometrik pada bidang biologi dan kesehatan menemukan rata-rata sitasi diri di kisaran 8–13%, jarang melewati 20%. Analisis pada jurnal Critical Care Medicine menemukan median journal self-citation rate 8,8% dengan rentang 0–35%. Beberapa jurnal seperti Current Opinion in Cell Biology dan Langmuir memasang batas atas 20–25% untuk mencegah manipulasi metrik.
Kenapa ini dijaga ketat
Sitasi diri yang tinggi bisa menaikkan Impact Factor jurnal secara tidak wajar, sehingga memberi kesan prestise yang lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya. Karena itu kini dikembangkan metrik bebas sitasi diri untuk menilai kualitas ilmiah secara lebih objektif.
Ringkasnya, angka yang berulang di seluruh materi ada dua: 7–20% sebagai rentang wajar, dan 20% sebagai garis merah. Yang dihindari bukan mengutip diri sendiri, melainkan mengutip yang tidak relevan, atau mengutip berlebihan demi menaikkan h-index pribadi dan angka sitasi jurnal.
Yang saya bawa pulang
Pertama, pembukaan materi ini adalah kritik yang dibungkus data. Peringkat 3 untuk jumlah artikel dan peringkat 38 untuk jumlah sitasi bukan dua fakta terpisah — keduanya satu kalimat: kita produktif menulis, tapi belum cukup dibaca. Sebagai calon penulis disertasi, targetnya jelas bukan menambah tumpukan.
Kedua, SLR di materi ini diperlakukan sebagai prosedur, bukan gaya penulisan. Ada string pencarian yang diuji dulu di satu database, ada kriteria inklusi yang ditulis sebelum menyaring, ada empat tahap seleksi, ada tabel ekstraksi. Semua itu membuat hasilnya bisa ditelusuri ulang orang lain — dan itulah yang membedakan systematic literature review dari sekadar membaca banyak jurnal.
Ketiga, AI ditempatkan di posisi yang tepat: bukan pencari literatur, melainkan peringkas dan pengklaster setelah artikel terkumpul dan tersaring lewat prosedur. Urutannya penting — Scopus dulu, saring dulu, ekspor dulu, baru AI. Dibalik urutannya, yang keluar bukan SLR.
Ringkasan pribadi atas materi Scientific Writing and Citation Preferences oleh Muhammad Akhsin Muflikhun, Ph.D., Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Data peringkat merujuk Scilit Rankings tahun 2024 dengan pembaruan terakhir 10 September 2025. Materi juga mencantumkan sejumlah rujukan berupa DOI dari Springer, BMC, CMAJ, British Journal of Anaesthesia, Wiley, dan Frontiers in Research Metrics. Salah tafsir dalam ringkasan ini tanggung jawab saya.
Catatan terkait
- SLR Bukan Sekadar Bab Dua — Protokol Systematic Literature Review — protokol praktiknya sampai ke disertasi
- Kualitatif atau Kuantitatif? — Pertemuan 1 Metodologi Penelitian — posisi SLR di antara jenis penelitian
- RPS Metode Penelitian — Peta 16 Minggu — peta mata kuliah Metode Penelitian
Berkas materi & cara mengunduh
Login dulu, baru unduh. Berkas di bawah berakses terbatas untuk mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan FISIP Unila angkatan 2026. Browser Anda harus sudah masuk memakai akun NPM@students.unila.ac.id — buka apps.unila.ac.id, klik kartu Google Workspace for Education, login dengan NPM dan sandi yang sama seperti myUnila, baru klik tautan berkasnya.
Kalau muncul pesan “Anda memerlukan akses”: salin tautan berkasnya, buka jendela browser baru (atau mode samaran), login lewat apps.unila.ac.id di jendela itu, lalu tempel tautan tadi di sana.
- Materi Sitasi dan SLR — Akhsin — PDF · 7,6 MB
Dokumentasi sesi dan berkas lain pertemuan ini ada di folder Drive kelas. Hak cipta materi ada pada pemateri masing-masing; tautan ini berakses terbatas, bukan publikasi ulang.
Subscribe newsletter
Dapat email setiap kali Catatan Kuliah publish post baru. Tanpa spam, unsubscribe kapan saja.
Privacy: email kamu cuma dipakai untuk kirim post baru dari blog ini. Tidak di-share, tidak di-jual.
Komentar (0)
Memuat komentar…
Artikel Terkait dari HARNO
Topik Serupa
Bacaan Lain di Blog Unila
Tulisan terkait dari penulis lain — kurasi otomatis berdasarkan kategori & tag.


