Pendidikan

Ruang Lingkup Filsafat dan Filsafat Ilmu — Pertemuan 2

Dari etimologi philosophia sampai tangga pengetahuan: lima wajah filsafat, kelahiran mitos ke logos, dan lima sikap ilmiah — Pertemuan 2 Filsafat Ilmu.

Catatan Kuliah
7 menit baca
Ruang Lingkup Filsafat dan Filsafat Ilmu — Pertemuan 2

Pertemuan kedua mata kuliah Filsafat Ilmu membawa kami mundur jauh ke belakang — ke titik ketika manusia pertama kali berhenti sekadar percaya dan mulai bertanya. Catatan ini menata ulang paparan menjadi satu alur baca: dari arti kata filsafat, sifat dan perannya, kelahirannya dari mitos, sampai bagaimana ia mengerucut menjadi filsafat ilmu yang menjadi dasar seluruh keilmuan.

Konteks kuliah. Mata kuliah Filsafat Ilmu · Pertemuan ke-2: Ruang Lingkup Filsafat · Pengampu Pitojo Budiono · Kurikulum 2025 · Program Doktor Studi Pembangunan FISIP Unila.

Dari "cinta kebijaksanaan"

Secara etimologi, filsafat berasal dari kata Yunani philosophia — gabungan dua akar kata:

  • philein (mencintai) atau philos (teman), dan
  • sophos (bijaksana) atau Sophia (kebijaksanaan).

Jadi seorang filsuf, pada asalnya, adalah pencinta kebijaksanaan — bukan orang yang merasa sudah bijaksana, melainkan yang tak henti mengejarnya.

Lima wajah filsafat

Secara terminologi, filsafat tidak berdiri di satu definisi. Paparan menyebut lima cara memaknainya:

1. Sebagai sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.

2. Sebagai proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang selama ini kita junjung tinggi.

3. Sebagai usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.

4. Sebagai analisa logis atas bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.

5. Sebagai sekumpulan problema langsung yang mendapat perhatian manusia.

Lima makna itu bergerak dari yang paling pasif (sikap yang diterima begitu saja) menuju yang paling aktif (kerja kritis dan analitis). Filsafat, dengan kata lain, adalah gerak dari menerima ke mempertanyakan.

Sifat dasar dan perannya

Ada lima sifat dasar yang membuat sebuah pemikiran layak disebut filsafati: berpikir radikal (menemukan akar seluruh kenyataan), mencari asas (esensi realitas), memburu kebenaran, mencari kejelasan (pengertian sekaligus intelektual), dan berpikir rasional yang logis, sistematis, serta kritis.

Dari sifat itu lahir tiga peran yang, bagi saya, paling menggugah:

Pendobrak — ketika intelektualitas tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan.

Pembebas — membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan cara berpikir mistis.

Pembimbing — menuntun manusia menjadi rasional.

Dari mitos menuju logos

Filsafat lahir saat manusia berpindah dari mitos menuju logos — dari penjelasan berbasis dongeng dan takhayul menuju penjelasan berbasis nalar. Abad Yunani kuno dianggap sebagai titik tolaknya. Empat hal, kata paparan, yang melahirkan filsafat:

  • Ketakjuban pada dunia yang tampak;
  • Ketidakpuasan terhadap jawaban mitos;
  • Hasrat untuk bertanya yang tak kunjung padam;
  • Keraguan yang mendorong pemeriksaan ulang.

Yang dikejar bukan gejala, tapi hakikat

Inilah inti pertemuan ini. Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu secara mendalam dengan akal, sampai pada hakikatnya. Filsafat tidak berhenti pada gejala atau fenomena; yang diburu adalah hakikat di baliknya — prinsip yang menyatakan sesuatu adalah sesuatu itu.

Supaya sampai ke hakikat, cara berpikir filsafat harus memenuhi tiga syarat yang menaik — sebuah tangga kedalaman:

Refleksi — manusia menangkap objek secara sadar dan menyeluruh, sebagai keseluruhan nilai dan makna.

Radikal — dari radix, akar; mencari pengetahuan sedalam-dalamnya.

Integral — kecenderungan memperoleh pengetahuan yang utuh sebagai satu keseluruhan.

Peta cabang dan aliran

Filsafat bercabang luas: metafisika, epistemologi, aksiologi (yang menaungi logika, etika, estetika), lalu metodologi, ontologi, kosmologi, antropologi, sampai filsafat ilmu — baik ilmu umum maupun ilmu khusus (fisika, matematika, biologi, ilmu sosial, hukum, ekonomi, politik, dan seterusnya).

Ditinjau dari geo-kultur, ada tiga aliran besar:

  • Barat — berkembang dari tradisi falsafi Yunani kuno, dipelajari secara akademis di Eropa;
  • Timur — berkembang di Asia (khususnya India dan Tiongkok), khas karena kedekatan filsafat dengan agama;
  • Timur Tengah — pewaris tradisi Barat lewat cendekiawan Arab/Islam yang menjumpai kebudayaan Yunani di sekitar Laut Tengah.

Khusus Filsafat Barat, periodisasinya kerap dipetakan begini:

PeriodeTokoh
KlasikThales, Socrates, Plato, Aristoteles
PertengahanThomas Aquino
ModernDescartes, Leibniz, Pascal, Spinoza, Hobbes
KontemporerFoucault, Camus, Sartre, Habermas, Heidegger

Dari filsafat ke filsafat ilmu

Di paruh kedua, paparan mengerucut ke Filsafat Ilmu: penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara memperolehnya. Objek materialnya adalah pengetahuan ilmiah, dan ia menjadi dasar keilmuan yang bersifat universal. Filsafat ilmu bisa dilihat dari tiga sisi sekaligus:

  • Sebagai proses — aktivitas penelitian;
  • Sebagai prosedur — metode ilmiah;
  • Sebagai produk — pengetahuan yang sistematis.

Lalu, apa itu ilmu? Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan, metodis, dan empirik. Ciri-cirinya: berobjek, bersistem, bermetode, dan universal. Sifatnya pun khas — hasilnya akumulatif, kebenarannya relatif, dan cara pandangnya objektif.

Tangga pengetahuan

Salah satu bagan yang paling saya suka adalah tangga dari sekadar "tahu" menuju pengetahuan yang paling mapan:

TahuPengetahuanIlmuTeoriDalilAksioma

Setiap anak tangga menuntut derajat kepastian, sistematisasi, dan pembuktian yang makin tinggi. "Tahu" bisa datang dari pengalaman sehari-hari; "aksioma" adalah pernyataan yang kebenarannya tak lagi diperdebatkan.

Ilmiah vs non-ilmiah

Untuk menegaskan batas, paparan membandingkan pengetahuan ilmiah dan non-ilmiah:

AspekPengetahuan IlmiahPengetahuan Non-Ilmiah
TujuanDeskripsi (menjelaskan gejala), eksplanasi (hubungan kausal), dan prediksi lewat data objektifBertahan hidup sehari-hari (pragmatis)
Cara pemerolehanMetodis, sistematis (urutan ketat), objektifWarisan budaya dan tradisi; metode tidak penting; tidak objektif

Sikap ilmiah

Menutup pertemuan, lima sikap yang harus dipelihara seorang ilmuwan:

  1. Tidak ada pamrih — objektivitas jadi tujuan;
  2. Melepaskan diri dari praandaian;
  3. Selektif memilih problema agar didukung fakta;
  4. Bersikap serba relatif dan skeptis;
  5. Menjunjung universalitas.

Yang saya bawa pulang

Filsafat ilmu bukan pelajaran menghafal aliran dan tokoh, melainkan latihan sikap: berani mempertanyakan yang diterima begitu saja, menembus gejala untuk mencari hakikat, dan menjaga kerendahan hati bahwa kebenaran ilmu itu relatif. Bagi peneliti pembangunan, ini fondasi — sebelum memilih metode, kita perlu jernih dulu soal apa itu tahu, apa itu ilmu, dan sampai mana klaim kita boleh melangkah.


Catatan terkait


Berkas materi & cara mengunduh

Login dulu, baru unduh. Berkas di bawah berakses terbatas untuk mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan FISIP Unila angkatan 2026. Browser Anda harus sudah masuk memakai akun NPM@students.unila.ac.id — buka apps.unila.ac.id, klik kartu Google Workspace for Education, login dengan NPM dan sandi yang sama seperti myUnila, baru klik tautan berkasnya.
Kalau muncul pesan “Anda memerlukan akses”: salin tautan berkasnya, buka jendela browser baru (atau mode samaran), login lewat apps.unila.ac.id di jendela itu, lalu tempel tautan tadi di sana.

Dokumentasi sesi dan berkas lain pertemuan ini ada di folder Drive kelas. Hak cipta materi ada pada pemateri masing-masing; tautan ini berakses terbatas, bukan publikasi ulang.

80

Subscribe newsletter

Dapat email setiap kali Catatan Kuliah publish post baru. Tanpa spam, unsubscribe kapan saja.

Privacy: email kamu cuma dipakai untuk kirim post baru dari blog ini. Tidak di-share, tidak di-jual.

Komentar (0)

Memuat komentar…

    Tentang Penulis

    Catatan Kuliah

    Lihat semua artikel →

    Artikel Terkait dari HARNO

    Topik Serupa

    Bacaan Lain di Blog Unila

    Tulisan terkait dari penulis lain — kurasi otomatis berdasarkan kategori & tag.