Riset & Penelitian

Sains Tumbuh Lewat Revolusi — Review Paradigma Thomas Kuhn

Paradigma sebagai worldview, gestalt switch, dan siklus normal science–anomali–krisis–revolusi: review teori Thomas Kuhn bagi peneliti pembangunan.

Catatan Kuliah
7 menit baca
Sains Tumbuh Lewat Revolusi — Review Paradigma Thomas Kuhn

Pertanyaan yang tampak sederhana ini sebenarnya membelah dua kubu besar filsafat ilmu: apakah sains tumbuh sedikit demi sedikit menumpuk kebenaran, atau justru melompat lewat revolusi yang menjungkirkan cara pandang lama? Untuk menjawabnya, saya membaca ulang artikel Nurkhalis yang merangkum inti pemikiran Thomas S. Kuhn — dan mencatat apa yang relevan untuk seorang peneliti pembangunan.

Tugas Mandiri · Pertemuan 2 · Filsafat Ilmu · Prof. Dr. Noverman Duadji, M.Si.

Identitas jurnal. "Konstruksi Teori Paradigma Thomas S. Kuhn" · oleh Nurkhalis (Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh) · Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. XI No. 2, Februari 2012 · rujukan utama: Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (1970).

Tesis utama: kebenaran sains itu berkali-kali, bukan menumpuk

Kuhn menolak gambaran populer bahwa sains adalah tumpukan temuan yang terus bertambah menuju kebenaran final. Menurutnya, kebenaran sains ditemukan berkali-kali dan berganti-ganti bentuk ilmiahnya, walau objek yang dikaji sama. Perubahannya bukan evolusi mulus, melainkan paradigm shift — pergeseran paradigma, atau yang ia sebut revolusi.

Artikel ini berdiri di atas satu poros: paradigma. Nurkhalis membedahnya dari lima sudut — sebagai worldview, sebagai sesuatu yang shifting, sebagai puzzle solving, sebagai revolusi ilmiah, dan sebagai sebuah hirarki tahapan.

Paradigma sebagai worldview

Paradigma, tulis penulis, identik dengan world view (pandangan dunia), general perspective (cara pandang umum), atau way of breaking down the complexity — cara menyederhanakan kerumitan. Ia bukan sekadar teori, melainkan seperangkat asumsi teoritis, hukum, dan teknik yang dianut bersama oleh satu komunitas ilmiah. Definisi yang dikutip dari Patton menangkapnya dengan bagus:

"A paradigm is a world view, a general perspective, a way of breaking down the complexity of the real world… Paradigms are also normative, telling the practitioner what to do without the necessity of long existential or epistemological consideration."

Justru di situ letak kekuatan sekaligus kelemahannya: paradigma membuat tindakan ilmiah menjadi mungkin, tetapi alasan tindakan itu sering tersembunyi dalam asumsi yang tak pernah dipertanyakan. Sebuah worldview, kata artikel ini, umumnya punya lima struktur: pandangan tentang ilmu, alam semesta, manusia, kehidupan, dan nilai moralitas.

Gestalt switch: berpindah sekaligus, atau tidak sama sekali

Bagian paling memikat adalah penyamaan paradigm shift dengan gestalt switch dalam psikologi persepsi:

Gestalt switch — perpindahan cara melihat yang terjadi all at once or not at all (sekaligus atau tidak sama sekali). Seperti gambar yang tiba-tiba berubah dari bebek menjadi kelinci, ilmuwan yang beralih paradigma seolah bekerja "di dunia yang berbeda".

Sejarah sains yang dikutip menegaskan pola ini: dari sistem Ptolemeus (bumi pusat) ke Copernicus (matahari pusat), lalu dari fisika Newton ke Relativitas dan fisika Kuantum. Setiap lompatan mengubah worldview, bukan sekadar menambah data.

Normal science, anomali, dan krisis

Dalam keadaan normal, paradigma berfungsi sebagai puzzle solving — model atau contoh untuk memecahkan teka-teki yang belum tuntas. Selama komunitas ilmiah masih sepakat (agreement), sebuah paradigma "hidup" dan disebut normal science. Persoalannya muncul ketika ada anomaly — gejala yang tak bisa dijelaskan paradigma yang berlaku. Bila anomali menumpuk dan menyerang jantung paradigma, terjadilah krisis, dan krisis membuka pintu revolusi.

Poin penting: anomali bukan aib, melainkan prasyarat. Tanpa anomali yang mengganggu, tidak ada dorongan untuk mencari paradigma baru. Anomali "mengisi celah ignorance" dan menjadi benih penemuan.

Hirarki delapan tahap perkembangan sains

Nurkhalis memerinci struktur perkembangan sains menurut Kuhn menjadi delapan tahap yang berputar:

  1. Pra-paradigma — belum ada temuan; kerangka masih kosong (blanket);
  2. Pra-science — belum ada kesepakatan tentang subject matter; kerja masih terpencar;
  3. Paradigma normal science — satu paradigma diterima dan dilindungi dari kritik;
  4. Normal science — paradigma dominan jadi tolok ukur; riset berpijak padanya;
  5. Anomali — muncul kelainan yang mengurangi kesepakatan;
  6. Krisis revolusi — anomali menyerang fundamental; kepercayaan goyah;
  7. Paradigma baru — worldview baru lahir dari discovery dan menang (winnowing);
  8. Extra ordinary science — komunitas pendukung meyakinkan bahwa paradigma baru lebih dekat ke kebenaran.

Paradigma baru, kata Kuhn, dipilih bukan semata karena lebih benar, tetapi karena terasa neater (lebih rapi), more suitable (lebih cocok), simpler (lebih sederhana), dan more elegant. Ia bahkan menyebut lima ciri teori yang baik: akurasi, konsistensi, cakupan, kesederhanaan (simplicity), dan kesuburan (fruitfulness).

Ujungnya: kebenaran sebagai target teleologis

Kesimpulan artikel menautkan semua itu ke gagasan final cause: kebenaran sains akhirnya dipahami sebagai target teleologis — pengungkapan (detection) yang mendorong terbentuknya worldview dan kesepakatan umum. Argumen untuk berpindah paradigma, tegas Kuhn, "tidak pernah benar-benar rasional"; ada unsur keyakinan, bahkan konversi, di dalamnya. Karena itu, tak ada paradigma yang sempurna dan bebas dari anomali — dan justru itulah yang membuat revolusi ilmiah terus mungkin.

Catatan kritis

Sebagai ringkasan, artikel ini padat dan setia pada teks Kuhn — hampir seluruh klaim disandarkan langsung ke The Structure of Scientific Revolutions. Kekuatannya: ia menautkan konsep paradigma dengan diskursus worldview yang akrab di kajian keislaman, sehingga terasa relevan lintas disiplin.

Sisi yang perlu diwaspadai. Gaya penulisannya menumpuk banyak istilah asing dalam satu kalimat sehingga alurnya kadang berat dibaca, dan ada beberapa salah ketik kecil (misalnya penomoran ciri teori yang meloncat). Pembaca juga perlu ingat: ini ulasan sekunder — untuk klaim krusial, sebaiknya kembali ke Kuhn langsung agar tidak kehilangan nuansa.

Yang saya bawa pulang

Bagi peneliti pembangunan, teori Kuhn adalah cermin. Ia mengingatkan bahwa setiap "arus utama" — entah modernisasi, dependensi, atau pembangunan berkelanjutan — adalah sebuah paradigma, lengkap dengan asumsi yang sering tak kita sadari. Tugas peneliti bukan sekadar bekerja di dalam paradigma, tetapi peka pada anomali: fakta lapangan yang tak muat dalam teori. Di sanalah, kata Kuhn, kebaruan bermula.


Catatan terkait


Berkas materi & cara mengunduh

Login dulu, baru unduh. Berkas di bawah berakses terbatas untuk mahasiswa Program Doktor Studi Pembangunan FISIP Unila angkatan 2026. Browser Anda harus sudah masuk memakai akun NPM@students.unila.ac.id — buka apps.unila.ac.id, klik kartu Google Workspace for Education, login dengan NPM dan sandi yang sama seperti myUnila, baru klik tautan berkasnya.
Kalau muncul pesan “Anda memerlukan akses”: salin tautan berkasnya, buka jendela browser baru (atau mode samaran), login lewat apps.unila.ac.id di jendela itu, lalu tempel tautan tadi di sana.

Dokumentasi sesi dan berkas lain pertemuan ini ada di folder Drive kelas. Hak cipta materi ada pada pemateri masing-masing; tautan ini berakses terbatas, bukan publikasi ulang.

100

Subscribe newsletter

Dapat email setiap kali Catatan Kuliah publish post baru. Tanpa spam, unsubscribe kapan saja.

Privacy: email kamu cuma dipakai untuk kirim post baru dari blog ini. Tidak di-share, tidak di-jual.

Komentar (0)

Memuat komentar…

    Tentang Penulis

    Catatan Kuliah

    Lihat semua artikel →

    Artikel Terkait dari HARNO

    Topik Serupa

    Bacaan Lain di Blog Unila

    Tulisan terkait dari penulis lain — kurasi otomatis berdasarkan kategori & tag.